Fakultas Sains dan Teknologi UINSA membuat Hand Sanitizer untuk Civitas Academika UINSA

Mengantisipasi langkanya, hand sanitizer di pasaran, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Ampel (UINSA) memproduksi sedikitnya 1350 botol hand sanitizer. Cairan ini dibuat sejumlah mahasiswa Program Studi Biologi di Laboratorium integrasi milik UINSA selama dua hari terakhir dan nantinya akan dibagikan secara gratis bagi civitas akademika di lingkungan UINSA.

“Tadi pagi telah diserahterimakan dari Pimpinan Fakultas Saintek ke Pimpinan UINSA,” papar Eva Agustina, M.Si., Kepala Laboratorium FST yang memimpin kegiatan tersebut. Hadir sejumlah Pimpinan UINSA mulai dari Rektor, Prof. H. Masdar Hilmy, S.Ag., MA., Ph.D., Wakil Rektor, Kepala Biro AUPK, Kepala Pusat Bisnis, Kabag Umum, Kabag Keuangan, dan Staf Kantor Pusat UINSA. Dari FST hadir Dekan, Dr. Hj. Eni Purwati, M.Ag.; Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan, Dr. Evi Fatimatur Rusdyah, M.Ag.; Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama, Yusuf Amrozi, MMT.; Ketua Jurusan dan Pimpinan Tendik Fakultas; serta mahasiswa.

Lebih jauh Kepala Laboratorium Eva Agustina juga menjelaskan, bahwa proses pembuatan hand sanitizer tidak terlalu sulit. Bahan-bahan yang digunakan diantaranya yaitu etanol 96%. Untuk alkohol 70% sebenarnya juga sudah cukup, gliserol, H2O2 3%, air steril sesuai dengan takaran, serta parfum. “Semua bahan dicampur sesuai dengan prosedur yang dikeluarkan oleh WHO,” papar Dosen Prodi Biologi ini. Produk hand sanitizer yang dihasilkan sebanyak 500 liter dan sudah di bagi kedalam wadah-wadah kecil yang sudah diberi label dan siap untuk didistribusikan pada botol ukuran 200ml dan 500ml.

Dekan Saintek Dr. Eni Purwati menyampaikan ucapan terima kasih kepada Mahasiswa FST UINSA yang berkontribusi dalam pembuatan hand sanitizer untuk membantu meminimalisir penyebaran Covid-19. Namun karena produksi perdana ini persediaannya masih terbatas sehingga hanya akan dibagikan secara gratis kepada civitas akademika UINSA. “Kedepannya diharapkan dapat dikembangkan untuk kepentingan komersial. Tentu dengan nilai jual yang wajar, karena ini bencana kemanusiaan,” ujar Dr. Eni Purwati.