FST GELAR SEMINAR INTEGRASI SAINS, TEKNOLOGI, DAN ISLAM DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

 

 

 

 

 

 

UINSA Newsroom, Kamis (13/12/18); Kamis, 13 Desember 2018, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya gelar seminar dengan tema, “Integrasi Sains, Teknologi, dan Islam di Era Revolusi Industri 4.0.’ Agus Mustofa, Penulis puluhan buku serial, Diskusi Tasawuf Modern dan M. Ali Irsyad, CEO Irjadgrup Rahmat Semesta didapuk sebagai narasumber dalam kegiatan yang dilaksanakan di Gedung Sport Center dan Multipurpose UINSA.

Agus Mustofa sebagai narasumber pada sesi pertama memaparkan tentang Islam di Dunia Digital. Mengawali paparan, Agus Mustofa menyampaikan kegalauannya. “ Umat Islam adalah umat terbaik, suri tauladan umat yang pernah diciptakan. Nyatanya kiblat perdaban manusia ada di luar Islam. Semua lini kehidupan dikuasai non muslim. Apa yang salah dari kita? “ ujar Agus.  Menurut Agus, Integrasi Islam, sains, dan teknologi itu hanya pandangan sekuler. Padahal dalam Al Qur’an, ayat yang bercerita tentang ilmu pengetahuan sebanyak 750an ayat, melebihi pembahasan tentang ibadah yang hanya puluhan ayat.

Dihadapan ratusan mahasiswa FST, Agus berpesan, “Al Qur’an mengajarkan untuk beragama dengan menggunakan akal sehat. Dalam QS. Al Isro’ ayat 36 menjelaskan, bahwa Umat Islam jangan sekali-kali mengikuti segala sesuatu yang kamu tidak punya ilmunya, jadi kalian tidak boleh ikut-ikutan, harus tahu persis apa yang akan dilakukan,” tegas Agus.

Selanjutnya Agus Mustofa memaparkan beberapa akibat revolusi industri, “Pertama adanya ancaman articial intelligence, skeptisisme masyarakat digital, hoax bertebaran dimana-mana, munculnya hoax Islami, dan penafsiran yang sisnisme,” ujar Agus. Hal itu menurut Agus akan semakin menjadi di Indonesia Karen budaya literal di Indonesia belum tuntas. “Celakanya, masyarakat kita gemar melakukan share info tanpa mengecek kebenaran dan sumbernya. Indonesia sedang mengalamai turbulensi informasi,” tambah Agus. Di akhir pemaparan, Agus Mustofa memberikan dua gagasan menghadapi Revolusi Industri 4.0, Pertama merekonstruksi keimanan, kedua memahami AL Qua’an secara saintifik.

Pada Sesi kedua, giliran M. Ali Irsyad sebagai pembicara. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas kenamaan di Surabaya ini bercerita bagaimana cara pemanfaatan media sosial dan semangat berbisnis sejak muda. “Saya memulai bisnis domba, kambing, sapi saat kelas 2 SMA, dimulai dengan modal 250 ribu. Namun dalam kurun 2 minggu sudah beromzet 70 jutaan. 100 ribu saya buat untuk cetak brosur sisanya saya buat beli ice cream buat saya kasihkan ke temen-temen saya yang followers twiter-nya banyak, tapi syaratnya mereka harus retweet brosur punya saya, dari situlah mulai banyak yang menyakan kambing domba, ya dari para followers temen saya,” cerita Ali.

M. Ali Irsyad berharap, mahasiswa Saintek UINSA bisa meneliti tentang ketahanan pangan, “Ketahanan pangan menjadi isu hangat karena merupakan dampak langsung dari global warming. Karena data yang terhimpun sampai tahun ini, kebutuhan pangan setiap tahunnya semakin naik per individu,” tambah Ali. Di akhir paparan ali berpesan, jika ingin membuat perubahan, maka berfikirlah secara luas. Mulai dari lokal, mulai dari yang kecil, dan mulailah sekarang.

Gelar Seminar Integrasi Sains, Teknologi, dan Islam di Era Revolusi Industri 4.0 ini merupakan rangkaian acara Dies Natalis FST UINSA Surabaya. Turut hadir dalam acara tersebut jajaran pimpinan FST, Dr. Eni Purwati, M.Ag, Dr. Evi fatimatur Rusydiyah, M.Ag., Misbakhul Munir, S. Si., M.Kes., Yusuf Amrozi, M.MT., dan bebarapa Kaprodi di lingkup FST UINSA.