ANGKAT TEMA VAKSINASI, UINSA JUARA LKTII DI UNAIR SURABAYA

UINSA Newsroom, Rabu (21/11/2018); Bertajuk, ‘Symphony in Islamic Seminar and Paper Competition of Airlangga Indeks’ yang digelar Universitas Airlangga Surabaya, membawa UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya meraih juara dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Islami Steroid 2018, Sabtu, 17 Nopember 2018. Tim Biologi UINSA berhasil meraih Juara III dari 10 finalis terpilih yang terdiri UGM, Institut Teknologi Kalimantan, ITS, Dua Tim Universitas Negeri Semarang, Tiga Tim Unair, UNY, dan UINSA.

Adalah Syahidatul Kamilah, Dyah Ayu Pitaloka, dan Dyah Kumalasari. Ketiganya merupakan Mahasiswa Prodi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UINSA Semester III yang mengikuti ajang tersebut. Selama hampir empat bulan proses lomba dari mulai penyerahan abstrak penelitian, pengumpulan full paper, hingga presentasi, mereka didampingi Dr. Moch. Irfan Hadi, S.KM., M.KL., selaku pembimbing. Dosen Imunologi FST UINSA ini juga yang secara khusus memberikan saran, masukan, dan berbagai referensi bacaan untuk materi yang sejatinya baru diajarkan untuk mahasiswa semester lima.

“Kami sempat ngambang di awal karena kan kami belum pernah dapat materi kuliah imunologi. Sehingga kami berusaha cari data, survey referensi, konsep, materi dari buku sampai skripsi kakak tingkat. Sulitnya lagi, referensi tentang imunologi itu kebanyakan referensinya berbayar,” terang Syahida mengisahkan proses awal mereka.

Mengusung tema penelitian, ‘Pandangan Hukum Islam tehadap Vaksinasi Sebagai Human Investment Dalam Mengoptimalkan Bonus Demografi.’ Tim Biologi UINSA awalnya hendak mengangkat materi terkait virus cacar. “Namun karena itu materi lama, Dosen Pembimbing mengarahkan kami untuk ganti tema. Karena kebetulan saat itu juga ramai pembahasan vaksin rubella akhirnya kita putuskan angkat tema Vaksinasi,” ujar Dyah Ayu menambahkan.

Kaitannya dengan Vaksinasi, Dyah Kumalasari juga menambahkan, integrasinya dalam Hukum Islam adalah pentingnya pencegahan terhadap penyakit. Bahkan, dalam AlQuran juga dijelaskan secara eksplisit kandungan yang haram sekalipun dalam kondisi terdesak dapat dijadikan sebagai obat. “Penggunaan Vaksin sendiri bagi kami masuk dalam kateogri terdesak, mengingat banyaknya jenis penyakit yang saat ini berkembang dan perlu dilakukan pencegahan,” tegas Dyah Kumalasari.

Sedangkan mengenai nilai plus yang membawa Tim UINSA meraih uara dalam ajang ini, ketiganya kompak mengatakan, bahwa Nilai Ke-Islaman yang kuat serta isu terhangat yang diangkat kala itu menjadi kekuatan. “Kalau yang lain hanya menyebutkan nama surah dan ayat yang dijadikan dalil, kami membacakan dan menghafal semuanya,” imbuh Dyah Ayu.

Ke depan, Tim Biologi UINSA ini berharap, bahwa melalui penelitian yang dilakukan dapat memberi manfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat. Terutama bagaimana membuat masyarakat paham akan pentingnya vaksinasi bagi pertumbuhan masyarakat dan menghadapi bonus demografi. “Kami bahkan berpikir, bagaimana jika kedepannya kita bisa melakukan vaksinasi melalui makanan. Misalkan bagaimana kita membuat sebuah tanaman yang memiliki kandungan antigen tertentu, kita konsumsi, dan kita yang dapat manfaatnya,” jelas Dyah Kumalasari.

Hal ini berangkat dari banyaknya penolakan akan vaksin karena adanya Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) seperti halnya demam, flu, dan lain sebagainya. Kendati secara medis hal itu normal dan setiap tahunnya selalu berusaha diminimalisir dampaknya. “Kami jadi ingin kelak bisa PKL ke Biofarma, agar bisa mempelajari mengenai Vaksin lebih detail dan secara langsung,” ujar Dyah Ayu penuh harap. (Nur/Humas)